Rabu, 10 April 2013

Kematian, bukan akhir.

Ketiga orang itu, bertengger rapi di dinding kamarku. Memang, hanya potret usang tapi aku betah memandanginya. Sorot mata mereka yang tajam, wajah-wajah teduh, tapi bukan berarti mereka tak pernah marah dan gelisah. Mereka adalah pemberontak, melawan apa saja yang akan membunuh kemanusiaan. Ya, jiwa-jiwa yang kuat, tenang, dan berani.
Aku mencoba berjalan, menyapa, dan memasuki sendi-sendi pikiran mereka. Rasa kagum atas kesederhanaan. Wahib, pria sederhana yang juga berprofesi sebagai wartawan, tetap teguh memegang idealismenya. Tak tergerus oleh buaian materi, karena satu hal yang ia pegang kuat adalah nilai perjuangan. Bahwa manusia tak sekedar bekerja, tapi ada hal lebih yang ingin ia capai. Wahib terus membenturkan pikirannya, mengurai masalah, mencari solusi dari realitas yang selalu jauh dari cita ideal. Ia selalu bertanya, dimana Tuhan, ia selalu gelisah terhadap keyakinannya. Tapi bukan berarti ia tak punya iman. Tapi Wahib ingin sampai pada pengenalan diri yang utuh, Wahib yang me-Wahib. Hingga pada    usia 30 tahun, ia wafat akibat kecelakaan motor. Tapi semangatnya terus mengalir melalui karya yang ia wariskan. Ia dikenal sebagai pembaharu. terutama berkat catatan harian yang diangkat menjadi buku Pergolakan Pemikiran Islam (2004). Dalam catatannya, Wahib mencoba mempertanyakan apa yang sudah ia yakini selama ini mengenai Tuhan, ajaran Islam, masyarakat Muslim, ilmu pengetahuan dan lain-lain.Wahib sebagai salah satu pemikir baru Islam yang revolusioner. Pada 1971, Wahib menginggalkan Yogyakarta. Tujuannya adalah Jakarta, mencari kerja. Ia pada akhirnya diterima sebagai calon reporter majalah berita mingguan Tempo. Ia juga ikut kursus filsafat di Driyakara, Jakarta, sebuah perguruan tinggi yang didirikan oleh seorang Jesuit Jawa, Driyakara. Pada saat yang sama, ia juga ambil bagian dalam pertemuan berbagai kelompok diskusi. Ia bahkan sempat membuat rancangan tema diskusi soal teologi, poitik dan budaya yang sangat ambisisus.

Lalu, pernahkah kamu membayangkan bahwa langkah kakimu tiba-tiba redup karena nyawamu dicabut? Kamu mati dibunuh, disaat cita dan harapan sedang kau tata baik-baik. Ketika gejolak jiwa sedang bergerilya menuntut keadilan. Pernahkah kamu membayangkan rasanya?    

Pria paruh baya itu pergi meninggalkan cinta dan kerinduan orang-orang. Orang-orang yang haus akan keadilan, yang ingin terus melawan rasa takut dalam dirinya. Munir, si pemberani yang tak gentar menghalau pasukan ber tank-tank dengan senjata. Karena ia yakin jika kita telah mampu melawan rasa takut, badai sebesar apa pun akan mampu dihadapi. Keberanian membuat pikiran cerdas. Semangat itu yang menyala-nyala  terus dikepalanya, hingga senyawa arsenik, mematikan nadinya, pada sebuah pesawat dalam perjalanan menuju Utrecht, Amsterdam Belanda.

Munir, mati dibunuh oleh orang-orang yang ingin membungkam kebenaran. Kekuatan Munir yang begitu ditakuti, membuat mereka harus membunuhnya. Tapi mereka tidak pernah sadar bahwa membunuh sekali pun tidak akan bisa menutupi kebenaran. Kebenaran akan selalu menemukan jalannya. Entah kapan, tapi itu pasti.

Munir yang berani, jujur, dan konsisten memang telah tiada. jasadnya lebur bersama tanah, tetapi jiwanya berdiam di hati orang-orang yang rindu keadilan.

Begitulah perjuangan. Dibangun melalui pikiran cerdas, buah dari sebuah keberanian. Ketika letupan peluru, bom dan kekerasan riuh. Perjuangan yang mengusung nilai kemanusiaan tak pernah menemui getir. Kerendahan hati seorang Gandhi mampu menaklukkan tirani kekerasan. Seorang ksatria adalah seorang pemaaf. Memaafkan adalah kemenangan. Ia memberi pelajaran berarti tentang kewibawaan sejati, kharisma yang tidak diukur melalui dasi dan jabatan, tapi melalui sikap tenang, bijaksana, dan lembut. Ya, ghandi sampai pada garis kebijaksanaan, menempatkan manusia pada tempatnya. Bahwa manusia itu pada dasarnya semua baik, lingkunganlah yang mempengaruhi menjadi jahat. Gandhi selalu berpesan, merdekakan jiwamu. Jangan lawan kekerasan dengan kekerasan. Karena kekerasan itu jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Dan ia berhasil membuktikan itu, betapa sikap baik akan mampu mengalahkan apa saja yang bertentangan dengan nilai. Gandhi, penyabar tapi kuat. Ia tahu bagaimana caranya membalas kejahatan dengan tidak melukai. 

Wahib, Munir, dan Gandhi. Peletak pondasi peradaban. Inspirasi, untuk berubah, menjadi pribadi yang kuat, berani dan baik hati. Mereka telah pergi, tapi perjuangannya tetap hidup. Kami rindu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar