Kamis, 23 April 2015

Old News About HMI

Senin, 08/03/2010 11:42 WIB

TPF HMI Temukan Indikasi Kadernya Terlibat Rekayasa Bentrokan

Muhammad Nur Abdurrahman - detikNews
Makassar - Badan Koordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) mengungkapkan sejumlah fakta mengejutkan di balik kasus rusuh Makassar. Salah satunya, seorang aktivis HMI Makassar diduga ikut merekayasa kerusuhan tersebut.

Hal ini diungkapkan Ketua Umum Badko HMI Sulselbar, Andi Henny Handayani, di sela-sela diskusi Kontras dan Komnas HAM, di hotel Quality, Jalan Somba Opu, Makassar, Senin (8/3/2010).

Andi Henny menjelaskan, pihaknya telah membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) kasus bentrokan HMI dengan polisi dan warga yang terjadi pada 2 hingga 4 Maret lalu. TPF menemukan bukti bahwa peristiwa tersebut dipicu persoalan pribadi kader HMI bernama Ashari Setiawan alias Kama Cappi dengan anggota Densus 88.

Namun, sambung Andi Henny, pihaknya juga menemukan kejanggalan di balik perseteruan Kama Cappi dengan anggota Densus 88 tersebut. Sebab tak lama peristiwa terjadi, ada saksi mata yang melihat Kamma Cappi terlihat keluar masuk Mapolwiltabes Makassar. Andy Heny menduga, Kama Cappi terlibat rekayasa bentrokan mahasiswa dengan polisi. Hal itu dilakukan untuk mengalihkan gerakan mahasiswa dalam mengawal kasus bail out Bank Century.

"Kalau benar anggota Densus 88 mencari Kama Cappi di Wisma HMI, lantas kenapa bisa Kama bebas mondar-mandir di Mapolwiltabes Makassar sejam setelah perusakan terjadi. Ada apa antara polisi dan Kama?" ujar Henny bertanya-tanya.

Henny menambahkan, TPF juga menemukan sejumlah fakta bahwa Kama Cappi mempunyai track record yang buruk sebagai kader HMI. Dia pernah terlibat beberapa kasus kriminal di Makassar.

Terkait berbagai temuan tersebut, lanjut Andi Henny, pihaknya akan merekomendasikan pemecatan terhadap Kama Cappy ke PB HMI. Henny juga berharap, TPF HMI menghasilkan rekomendasi lain yang membersihkan nama organisasi.

"HMI harus memproteksi diri dari kepentingan pihak-pihak yang merusak kemurnian gerakan mahasiswa," tandas Henny.

Sabtu, 13 April 2013

sketsa rindu buat ayah

kenapa kau pergi?
dengan pertanyaan besar dikepalaku
yang dulu setiap saat kupertanyakan padamu
tak sedikitpun tak kau beri jawaban
disaat aku mencoba belajar
menghalau kenyataan hidup
disaat aku menepuk dadaku
akan kepahitan yang nyata

kenapa kau pergi?
kala aku membutukan cambukmu
yang mampu menuntunku menuju titik kedewasaan
kau membiarkanku berjalan meniti gurun tandus
tanpa bahumu yang kekar, yang sepanjang masa kurindu dekapnya

malam ini dengan kesedihan yang membatu didadaku
aku sedih Ayah, karena kita alpa untuk saling memarahi
aku rindu sentuhan jemarimu
rindu sorot matamu yang tajam

semoga engkau mendengarku, peluk rinduku buatmu.
Ayahku, damai selalu di sisiNya.

Rabu, 10 April 2013

Kematian, bukan akhir.

Ketiga orang itu, bertengger rapi di dinding kamarku. Memang, hanya potret usang tapi aku betah memandanginya. Sorot mata mereka yang tajam, wajah-wajah teduh, tapi bukan berarti mereka tak pernah marah dan gelisah. Mereka adalah pemberontak, melawan apa saja yang akan membunuh kemanusiaan. Ya, jiwa-jiwa yang kuat, tenang, dan berani.
Aku mencoba berjalan, menyapa, dan memasuki sendi-sendi pikiran mereka. Rasa kagum atas kesederhanaan. Wahib, pria sederhana yang juga berprofesi sebagai wartawan, tetap teguh memegang idealismenya. Tak tergerus oleh buaian materi, karena satu hal yang ia pegang kuat adalah nilai perjuangan. Bahwa manusia tak sekedar bekerja, tapi ada hal lebih yang ingin ia capai. Wahib terus membenturkan pikirannya, mengurai masalah, mencari solusi dari realitas yang selalu jauh dari cita ideal. Ia selalu bertanya, dimana Tuhan, ia selalu gelisah terhadap keyakinannya. Tapi bukan berarti ia tak punya iman. Tapi Wahib ingin sampai pada pengenalan diri yang utuh, Wahib yang me-Wahib. Hingga pada    usia 30 tahun, ia wafat akibat kecelakaan motor. Tapi semangatnya terus mengalir melalui karya yang ia wariskan. Ia dikenal sebagai pembaharu. terutama berkat catatan harian yang diangkat menjadi buku Pergolakan Pemikiran Islam (2004). Dalam catatannya, Wahib mencoba mempertanyakan apa yang sudah ia yakini selama ini mengenai Tuhan, ajaran Islam, masyarakat Muslim, ilmu pengetahuan dan lain-lain.Wahib sebagai salah satu pemikir baru Islam yang revolusioner. Pada 1971, Wahib menginggalkan Yogyakarta. Tujuannya adalah Jakarta, mencari kerja. Ia pada akhirnya diterima sebagai calon reporter majalah berita mingguan Tempo. Ia juga ikut kursus filsafat di Driyakara, Jakarta, sebuah perguruan tinggi yang didirikan oleh seorang Jesuit Jawa, Driyakara. Pada saat yang sama, ia juga ambil bagian dalam pertemuan berbagai kelompok diskusi. Ia bahkan sempat membuat rancangan tema diskusi soal teologi, poitik dan budaya yang sangat ambisisus.

Lalu, pernahkah kamu membayangkan bahwa langkah kakimu tiba-tiba redup karena nyawamu dicabut? Kamu mati dibunuh, disaat cita dan harapan sedang kau tata baik-baik. Ketika gejolak jiwa sedang bergerilya menuntut keadilan. Pernahkah kamu membayangkan rasanya?    

Pria paruh baya itu pergi meninggalkan cinta dan kerinduan orang-orang. Orang-orang yang haus akan keadilan, yang ingin terus melawan rasa takut dalam dirinya. Munir, si pemberani yang tak gentar menghalau pasukan ber tank-tank dengan senjata. Karena ia yakin jika kita telah mampu melawan rasa takut, badai sebesar apa pun akan mampu dihadapi. Keberanian membuat pikiran cerdas. Semangat itu yang menyala-nyala  terus dikepalanya, hingga senyawa arsenik, mematikan nadinya, pada sebuah pesawat dalam perjalanan menuju Utrecht, Amsterdam Belanda.

Munir, mati dibunuh oleh orang-orang yang ingin membungkam kebenaran. Kekuatan Munir yang begitu ditakuti, membuat mereka harus membunuhnya. Tapi mereka tidak pernah sadar bahwa membunuh sekali pun tidak akan bisa menutupi kebenaran. Kebenaran akan selalu menemukan jalannya. Entah kapan, tapi itu pasti.

Munir yang berani, jujur, dan konsisten memang telah tiada. jasadnya lebur bersama tanah, tetapi jiwanya berdiam di hati orang-orang yang rindu keadilan.

Begitulah perjuangan. Dibangun melalui pikiran cerdas, buah dari sebuah keberanian. Ketika letupan peluru, bom dan kekerasan riuh. Perjuangan yang mengusung nilai kemanusiaan tak pernah menemui getir. Kerendahan hati seorang Gandhi mampu menaklukkan tirani kekerasan. Seorang ksatria adalah seorang pemaaf. Memaafkan adalah kemenangan. Ia memberi pelajaran berarti tentang kewibawaan sejati, kharisma yang tidak diukur melalui dasi dan jabatan, tapi melalui sikap tenang, bijaksana, dan lembut. Ya, ghandi sampai pada garis kebijaksanaan, menempatkan manusia pada tempatnya. Bahwa manusia itu pada dasarnya semua baik, lingkunganlah yang mempengaruhi menjadi jahat. Gandhi selalu berpesan, merdekakan jiwamu. Jangan lawan kekerasan dengan kekerasan. Karena kekerasan itu jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Dan ia berhasil membuktikan itu, betapa sikap baik akan mampu mengalahkan apa saja yang bertentangan dengan nilai. Gandhi, penyabar tapi kuat. Ia tahu bagaimana caranya membalas kejahatan dengan tidak melukai. 

Wahib, Munir, dan Gandhi. Peletak pondasi peradaban. Inspirasi, untuk berubah, menjadi pribadi yang kuat, berani dan baik hati. Mereka telah pergi, tapi perjuangannya tetap hidup. Kami rindu.


Minggu, 03 Maret 2013

Perjalanan

awalnya sebuah titik. menggelinding. bergulung-gulung melalui apa saja. hutan, pantai, gunung, dan padang ilalang. mencari-cari kebisingan disela sunyi yang meresapi hidup. belajar merangkak, duduk lalu berdiri dtengah riuh lampu kota.

setiap detik adalah percakapan. memukul-mukul pikiran sendiri. disudut kota ini, aku memapah keinginan. membuktikan pada diri sendiri, bahwa aku menyayanginya sebagai amanah ibu yang berasal dari rahimnya.

aku mengaduk-aduk rasa. kadang suka. kadang sedih. tertawa dan menangis. melengkapi hari. membuat hidup berwarna warni. kesenangan yang selalu membaru.
---

tiba-tiba waktu membawa itu pergi. atas nama kenangan, ia lalu membungkusnya. membiarkannya mendekam jadi rindu. sepanjang malam, sepanjang musim. terus merindui makna. tentang warna yang pernah terukir.

kedewasaan adalah buah tangan pengalaman. lahir dari peluh keringat dan air mata. berdiam di dalam jiwa-jiwa agung. hingga hatimu menghitam, berkilau. dan kamu bebas terbang kemana saja, menjemput impian.  

masih disini. menatap bulir-bulir hujan. dengan harapan yang terus tumbuh...
perjalanan mencari keberanian. membiarkannya menyala-nyala.

pada sebuah gerimis di selatan jakarta, pukul 22.06 WIB




Rabu, 01 Agustus 2012

Membangun Konsolidasi Gagasan di Pilgub SulSel

Yang penting bagiku adalah dialog dan dari pertentangan-pertentangan keras akan bisa digali kebenara-kebenaran baru yang lebih tinggi. (Ahmad Wahib)

Sejak wacana Pilgub SulSel didengungkan diberbagai media lokal maupun nasional penulis turut memantaunya. Tak ingin luput dari pantauan, tiap detik ke detik lansiran berita berentetan masuk ke surat elektronik. Ada nuansa pertarungan sengit diantara para kandidat. Ada teror, fitnah dan intimidasi berbalut kampanye politik. Sempat terpikir, tidak adakah cara yang lebih elegan untuk mengkonsolidasikan kepentingan kandidat sehingga lawan politik seolah bukan lagi saudara. Padahal lahir dan dibesarkan di tanah yang sama. Sulawesi Selatan.
Hingga pada senin 30 juli 2012 dini hari, penulis membaca sebuah lansiran berita, salah satu baligho kandidat dirusak oleh orang yang tidak diketahui. Tetapi, penulis tercengang mengapa beritanya berisi tuding-menuding tanpa bukti yang mendasar, semua hanya berdasar curiga dan sentiment politik. Menurut hemat saya situasi ini justru sangat timpang dan terkesan penuh rekayasa. Tetapi, sekali lagi kejadian seperti ini harus disikapi dengan pikiran jernih dan sikap bijak. Sebab jika tidak muaranya adalah provokatif kepentingan. Dan masyarakat awam pun tanpa membaca teori politik akan paham itu.
Tahapan Pemilukada di Sulawesi Selatan baru akan digelar pada 13 Agustus 2012 mendatang, tetapi aroma politik sangat kental menyengat. Tidak hanya memasuki ruang-ruang publik tapi mulai menyusup ke ruang-ruang privat. Seolah hari-hari kita diwarnai oleh momentum politik. Ketika membuka mata di pagi hari, secangkir teh bersanding dengan lembaran berita politik yang tiap saat diperbaharui dan dipanaskan oleh media yang juga memiliki kepentingan terhadap segmen pasarnya. Dalam logika demokrasi, saya pikir ini sah-sah saja. Apa yang disajikan media adalah bagian dari proses perjalanan panjang gelombang transisi demokrasi menuju titik kedewasaannya.
Namun seiring perjalanannya, sering kita temui beberapa kenyataan yang timpang. Media tak sepenuhnya menjadi alat kontrol dan media pencerahan tetapi kadangkala menjadi ruang strategis untuk melancarkan serangan, tudingan, fitnah, dan propaganda politik. Tentu ini yang menjadi kegelisahan sendiri. Seberapa besar netralitas dan objektifitas media terhadap geliat wacana politik yang berkembang? Lalu bagaimana peran segenap stake holder dalam membangun iklim perpolitikan yang sehat dan mendidik? Jawabannya masih ambigu. Mungkinkah atas nama keuntungan dan kepentingan, situasi ini dibiarkan tumbuh subur?
Salah satu problem yang menuai polemik di masyarakat adalah kampanye negatif atau black campaign yang biasa digunakan oleh lawan politik untuk menjatuhkan kredibiltas kandidat. Hal ini seolah telah menjadi kebiasaan bagi para kontestan politik. Ironisnya, ini dianggap hal yang biasa.  Namun kadang berimbas negatif dan merugikan kandidat. Dalam pertarungan Pilgub SulSel mendatang, ketiga kontestan yakni Ilham-Azis (IA), Syahru-Agus (Sayang) dan Rudi-Nawir (Garudana) tak luput dari hal tersebut. Masing-masing kandidat memasang posisi kuda-kuda, untuk menghalau serangan “black campaign”. Entah dengan model klarifikasi, atau justru ikut serta memainkan opini “miring” yang diolah sedemikian rupa. Bagi masyarakat SulSel sajian ini sudah seperti sarapan pagi.
Lantas seperti apa model konsolidasi politik antar kandidat yang selama ini mewacanakan diri untuk bertarung di Pilgub nanti. Disayangkan, model ini tidak Nampak bahkan tenggelam oleh perang opini akibat praktek saling fitnah dan tuding-menuding. Ini bisa kita amati dari pemberitaan yang ada. Warna yang lebih kental hanya konsolidasi kepentingan di internal tim pendukung, belum diwarnai oleh niat baik untuk mendorong suasana pilgub yang damai secara bersama-sama.
Partai Politik Memiliki Tugas Ekstra
Partai politik adalah salah satu instrument penting yang bertanggungjawab menjaga stabilitas demokrasi dan memberikan pendidikan politik bagi masyarakat. Partai politik merupakan salah satu bentuk organisasi yang dibentuk oleh warga negara untuk memperjuangkan kepentingan politik. Hak atas kemerdekaan pikiran dan hati nurani merupakan hak yang sangat mendasar dan tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. Kemerdekaan tersebut diekspresikan melalui pendapat baik lisan maupun tulisan. Oleh karena itu kebebasan menyatakan pendapat baik dalam bentuk lisan maupun tulisan juga merupakan bagian dari hak asasi manusia. Wujud ekspresi lain dari kemerdekaan pikiran dan hati nurani adalah kebebasan berserikat. Dengan demikian, semua organisasi atau asosiasi yang dibentuk adalah puncak manifestasi dari kemerdekaan hati nurani dan kemerdekaan berpikir.
Partai politik memiliki peran untuk mengaitkan (linkage) antara rakyat dan pemerintahan. Paling tidak terdapat enam model keterkaitan yang diperankan oleh partai politik. Pertama adalah participatory linkage, yaitu ketika partai berperan sebagai agen di mana warga dapat berpartisipasi dalam politik. Kedua, electoral linkage, di mana pemimpin partai mengontrol berbagai elemen dalam proses pemilihan. Ketiga, responsive linkage, yaitu ketika partai bertindak sebagai agen untuk meyakinkan bahwa pejabat pemerintah bertindak resposif terhadap pemilih. Keempat, clientelistic linkage, pada saat partai bertindak sebagai sarana memperoleh suara. Kelima, directive linkage, yaitu pada saat partai berkuasa mengontrol tindakan warga. Dan keenam adalah organisational linkage, yaitu pada saat terjadi hubungan antara elit partai dan elit organisasi dapat memobilisasi atau "menggembosi" dukungan suatu partai politik.
Partai politik berkomunikasi dengan rakyat dalam bentuk menerima aspirasi dan menyampaikan program-program politik. Partai politik menerima aspirasi dan mengelolanya menjadi pendapat umum dan dituangkan dalam bentuk program serta diperjuangkan menjadi keputusan pemerintah. Fungsi ini juga dikenal sebagai fungsi "broker of idea" dan bagi partai yang sedang memerintah berfungsi sebagai instrumen kebijakan (parties as policy instruments). Melalui fungsi itu, partai politik menerjemahkan dan menggabungkan pandangan-pandangan individual dan kelompok-kelompok tertentu (interest aggregation) menjadi program (interest articulation) yang akandilaksanakan pemerintah dan menjadi dasar legislasi. Fungsi itu sekaligus menjembatani antara pemerintah dan rakyat sehingga terjalin komunikasi dan sosialisasi dua arah yang dalam bentuk idealnya dapat mewujudkan government by discussion antara rakyat dan pemerintah.
Duduk Bersama Meramu Visi
Di Pilgub SulSel beberapa partai politik getol mengkampanyekan kandidat masing-masing dengan program dan unjuk kekuatan massa di berbagai titik kampanye calon. Beberapa partai besar seperti Golkar, Demokrat, dan Hanura yang masing-masing diketuai oleh bakal calon Gubernur tentu secara signifikan memacu mesin pencitraannya. Sejauh ini ketika diamati secara kontinyu, masing-masing partai masih lebih menonjolkan ego partai dan belum mampu mengenyampingkan sejenak untuk duduk bersama meramu visi dan gagasan untuk kemajuan SulSel kedepan.
Padahal sesungguhnya tanggung jawab parpol sebagai mesin cetak kader yang bakal memimpin masyarakat diharapkan tetap eksis pada koridornya dalam menjaga nilai-nilai demokrasi. Apalagi rata-rata bakal calon adalah ketua partai politik. Sehingga idealnya, harus mampu berkomunikasi secara baik dan terbuka. Dimana secara konsep, partai politik harus melaksanakan kegiatan komunikasi politik dengan sesama partai politik dan dengan warga negara agar terdapat jalinan hubungan yang erat antara partai politik dengan warga negara. Sudah cukup masyarakat dicekoki lewat sandiwara politik dan permainan citra yang semu. Masyarakat SulSel merindukan suasana Pilgub yang tenang dan mendidik. Sebab perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi pun telah mengantarkan mereka pada satu titik kesadaran untuk memilah mana yang asli dan mana yang palsu, mana yang layak dan tidak layak.
            Penulis juga bagian langsung dari salah satu tim bakal calon yang bertarung, tetapi tetap mencoba menyuarakan sedikit harapan ditengah adu jotos media yang cenderung saling mendiskreditkan dan jauh dari kedewasaan. Mengutip Mahfud MD, politik itu gerbong, relnya adalah hukum, percuma bicara politik tanpa memperdulikan aturan. Berpolitiklah sesuai kaidah tanpa harus memaksakan kehendak dan menyudutkan seseorang. Mari duduk bersama dan berdialog, sebab Pilgub ini adalah momentum konsolidasi ide yang didorong bersama. Dan hasilnya pun adalah keinginan bersama yang sesunggunya merepresentase visi segenap masyarakat SulSel untuk hidup yang lebih maju. Semoga Tuhan meridhoi.

                                                                       

http://makassar.tribunnews.com/2012/07/31/jubir-sayang-selle-seperti-kucing-yang-kalap-dapat-makanan

Tribun Timur - Selasa, 31 Juli 2012 16:37 WITA



MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM-- Juru bicara pasangan incumbent calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu'mang (Sayang), Henny Handayani menyayangkan sikap tidak sportif dan lugu yang ditunjukkan jubir pasangan Ilham Arief Sirajuddin-Aziz Qahhar Mudzakkar (IA), Selle KS Dalle.  Mantan Ketua Badko HMI Sulselbar ini mengatakan, Selle, tanpa merasa bersalah sedikitpun dan tanpa  meminta maaf karena telah menuding seenak hati rusaknya baliho IA dikaitkan dengan Tim Sayang."Tidak apa-apa dia begitu (tidak meminta maaf). Makanya, sebagai jubir kalau berkomentar jangan gegabah. Jangan seperti kucing yang sedang kelaparan, tiba-tiba kalap saat dapat makanan," kata Heny, Selasa (31/7)

Menurut Henny, masyarakat butuh pencerahan dan pendidikan politik yang sehat, bukan adu domba kepentingan dengan melempar pernyataan yang tidak cerdas. Pilgub damai tanggungjawab semua elemen, bukan hanya tim sukses kandidat tertentu.

Aparat kepolisian telah memastikan rusaknya dua baliho raksasa milik pasangan IA di Jl Gunung Nona bukan karena unsur politik tetapi imbas dari tawuran antarpemuda di sekitar jalan tersebut.

Penulis : Syaekhuddin
Editor : Imam Wahyudi

Selasa, 31 Juli 2012

Tim Sayang Sebut Jubir IA Provokatif - Tribun Timur

Tim Sayang Sebut Jubir IA Provokatif - Tribun Timur
Tribun Timur - Senin, 30 Juli 2012 14:32 WITA

 
Makassar, Tribun-timur.com -- Asisten pribadi politisi PAN DPR RI, Indira Chunda "Thita" Syahrul YL, Henny Handayani menganggap pengrusakan baliho milik pasangan bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel, Ilham Arief Sirajuddin-Aziz Qahhar Mudzakkar (IA) adalah perilaku oknum yang tidak bertanggungjawab yang mau merusak suasana pilgub yang damai dan adil.

Ia pun menilai pernyataan Juru Bicara pasangan IA, Selle KS Dalle yang menuding bahwa perusakan baliho ini adalah perbuatan curang dari tim pasangan cagub-cawagub Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu'mang (Sayang) menurutnya terlalu dini untuk menyimpulkan.

Mantan Ketua Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (Badko HMI) Sulselbar ini mengatakan asumsi, opini, dan analisa yang coba dibangun di publik oleh Selle KS Dalle terlalu labil, apalagi harus dikait-kaitkan dengan ajakan dari Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo kepada semua kompetitor di pilgub agar tidak berlaku curang.

Menurutnya, ajakan tersebut adalah salah satu upaya untuk menjadikan Pilgub Sulsel sebagai percontohan di Indonesia. Dikatakan, boleh jadi hal tersebut dilakukan oleh kelompok yang berkepentingan yang sengaja ingin merusak citra Pilgub sulsel.

"Kalau Saudara Selle bilang ini adalah modus lama, mungkin yang lain juga bisa berasumsi kalau ini adalah modus baru untuk melakukan pembunuhan karakter untuk merangkul empati masyarakat. Jadi tudingan-tudingan seperti itu justru akan semakin memperkeruh dan memprovokasi masyarakat," kata

Menurutnya lagi, masih banyak asumsi yang bisa muncul akibat perusakan alat peraga milik pasangan IA karena di Pilgub Sulsel ini kontestannya bukan hanya satu orang

Penulis : Syaekhuddin
Editor : Ina Maharani