Rabu, 01 Agustus 2012

Membangun Konsolidasi Gagasan di Pilgub SulSel

Yang penting bagiku adalah dialog dan dari pertentangan-pertentangan keras akan bisa digali kebenara-kebenaran baru yang lebih tinggi. (Ahmad Wahib)

Sejak wacana Pilgub SulSel didengungkan diberbagai media lokal maupun nasional penulis turut memantaunya. Tak ingin luput dari pantauan, tiap detik ke detik lansiran berita berentetan masuk ke surat elektronik. Ada nuansa pertarungan sengit diantara para kandidat. Ada teror, fitnah dan intimidasi berbalut kampanye politik. Sempat terpikir, tidak adakah cara yang lebih elegan untuk mengkonsolidasikan kepentingan kandidat sehingga lawan politik seolah bukan lagi saudara. Padahal lahir dan dibesarkan di tanah yang sama. Sulawesi Selatan.
Hingga pada senin 30 juli 2012 dini hari, penulis membaca sebuah lansiran berita, salah satu baligho kandidat dirusak oleh orang yang tidak diketahui. Tetapi, penulis tercengang mengapa beritanya berisi tuding-menuding tanpa bukti yang mendasar, semua hanya berdasar curiga dan sentiment politik. Menurut hemat saya situasi ini justru sangat timpang dan terkesan penuh rekayasa. Tetapi, sekali lagi kejadian seperti ini harus disikapi dengan pikiran jernih dan sikap bijak. Sebab jika tidak muaranya adalah provokatif kepentingan. Dan masyarakat awam pun tanpa membaca teori politik akan paham itu.
Tahapan Pemilukada di Sulawesi Selatan baru akan digelar pada 13 Agustus 2012 mendatang, tetapi aroma politik sangat kental menyengat. Tidak hanya memasuki ruang-ruang publik tapi mulai menyusup ke ruang-ruang privat. Seolah hari-hari kita diwarnai oleh momentum politik. Ketika membuka mata di pagi hari, secangkir teh bersanding dengan lembaran berita politik yang tiap saat diperbaharui dan dipanaskan oleh media yang juga memiliki kepentingan terhadap segmen pasarnya. Dalam logika demokrasi, saya pikir ini sah-sah saja. Apa yang disajikan media adalah bagian dari proses perjalanan panjang gelombang transisi demokrasi menuju titik kedewasaannya.
Namun seiring perjalanannya, sering kita temui beberapa kenyataan yang timpang. Media tak sepenuhnya menjadi alat kontrol dan media pencerahan tetapi kadangkala menjadi ruang strategis untuk melancarkan serangan, tudingan, fitnah, dan propaganda politik. Tentu ini yang menjadi kegelisahan sendiri. Seberapa besar netralitas dan objektifitas media terhadap geliat wacana politik yang berkembang? Lalu bagaimana peran segenap stake holder dalam membangun iklim perpolitikan yang sehat dan mendidik? Jawabannya masih ambigu. Mungkinkah atas nama keuntungan dan kepentingan, situasi ini dibiarkan tumbuh subur?
Salah satu problem yang menuai polemik di masyarakat adalah kampanye negatif atau black campaign yang biasa digunakan oleh lawan politik untuk menjatuhkan kredibiltas kandidat. Hal ini seolah telah menjadi kebiasaan bagi para kontestan politik. Ironisnya, ini dianggap hal yang biasa.  Namun kadang berimbas negatif dan merugikan kandidat. Dalam pertarungan Pilgub SulSel mendatang, ketiga kontestan yakni Ilham-Azis (IA), Syahru-Agus (Sayang) dan Rudi-Nawir (Garudana) tak luput dari hal tersebut. Masing-masing kandidat memasang posisi kuda-kuda, untuk menghalau serangan “black campaign”. Entah dengan model klarifikasi, atau justru ikut serta memainkan opini “miring” yang diolah sedemikian rupa. Bagi masyarakat SulSel sajian ini sudah seperti sarapan pagi.
Lantas seperti apa model konsolidasi politik antar kandidat yang selama ini mewacanakan diri untuk bertarung di Pilgub nanti. Disayangkan, model ini tidak Nampak bahkan tenggelam oleh perang opini akibat praktek saling fitnah dan tuding-menuding. Ini bisa kita amati dari pemberitaan yang ada. Warna yang lebih kental hanya konsolidasi kepentingan di internal tim pendukung, belum diwarnai oleh niat baik untuk mendorong suasana pilgub yang damai secara bersama-sama.
Partai Politik Memiliki Tugas Ekstra
Partai politik adalah salah satu instrument penting yang bertanggungjawab menjaga stabilitas demokrasi dan memberikan pendidikan politik bagi masyarakat. Partai politik merupakan salah satu bentuk organisasi yang dibentuk oleh warga negara untuk memperjuangkan kepentingan politik. Hak atas kemerdekaan pikiran dan hati nurani merupakan hak yang sangat mendasar dan tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. Kemerdekaan tersebut diekspresikan melalui pendapat baik lisan maupun tulisan. Oleh karena itu kebebasan menyatakan pendapat baik dalam bentuk lisan maupun tulisan juga merupakan bagian dari hak asasi manusia. Wujud ekspresi lain dari kemerdekaan pikiran dan hati nurani adalah kebebasan berserikat. Dengan demikian, semua organisasi atau asosiasi yang dibentuk adalah puncak manifestasi dari kemerdekaan hati nurani dan kemerdekaan berpikir.
Partai politik memiliki peran untuk mengaitkan (linkage) antara rakyat dan pemerintahan. Paling tidak terdapat enam model keterkaitan yang diperankan oleh partai politik. Pertama adalah participatory linkage, yaitu ketika partai berperan sebagai agen di mana warga dapat berpartisipasi dalam politik. Kedua, electoral linkage, di mana pemimpin partai mengontrol berbagai elemen dalam proses pemilihan. Ketiga, responsive linkage, yaitu ketika partai bertindak sebagai agen untuk meyakinkan bahwa pejabat pemerintah bertindak resposif terhadap pemilih. Keempat, clientelistic linkage, pada saat partai bertindak sebagai sarana memperoleh suara. Kelima, directive linkage, yaitu pada saat partai berkuasa mengontrol tindakan warga. Dan keenam adalah organisational linkage, yaitu pada saat terjadi hubungan antara elit partai dan elit organisasi dapat memobilisasi atau "menggembosi" dukungan suatu partai politik.
Partai politik berkomunikasi dengan rakyat dalam bentuk menerima aspirasi dan menyampaikan program-program politik. Partai politik menerima aspirasi dan mengelolanya menjadi pendapat umum dan dituangkan dalam bentuk program serta diperjuangkan menjadi keputusan pemerintah. Fungsi ini juga dikenal sebagai fungsi "broker of idea" dan bagi partai yang sedang memerintah berfungsi sebagai instrumen kebijakan (parties as policy instruments). Melalui fungsi itu, partai politik menerjemahkan dan menggabungkan pandangan-pandangan individual dan kelompok-kelompok tertentu (interest aggregation) menjadi program (interest articulation) yang akandilaksanakan pemerintah dan menjadi dasar legislasi. Fungsi itu sekaligus menjembatani antara pemerintah dan rakyat sehingga terjalin komunikasi dan sosialisasi dua arah yang dalam bentuk idealnya dapat mewujudkan government by discussion antara rakyat dan pemerintah.
Duduk Bersama Meramu Visi
Di Pilgub SulSel beberapa partai politik getol mengkampanyekan kandidat masing-masing dengan program dan unjuk kekuatan massa di berbagai titik kampanye calon. Beberapa partai besar seperti Golkar, Demokrat, dan Hanura yang masing-masing diketuai oleh bakal calon Gubernur tentu secara signifikan memacu mesin pencitraannya. Sejauh ini ketika diamati secara kontinyu, masing-masing partai masih lebih menonjolkan ego partai dan belum mampu mengenyampingkan sejenak untuk duduk bersama meramu visi dan gagasan untuk kemajuan SulSel kedepan.
Padahal sesungguhnya tanggung jawab parpol sebagai mesin cetak kader yang bakal memimpin masyarakat diharapkan tetap eksis pada koridornya dalam menjaga nilai-nilai demokrasi. Apalagi rata-rata bakal calon adalah ketua partai politik. Sehingga idealnya, harus mampu berkomunikasi secara baik dan terbuka. Dimana secara konsep, partai politik harus melaksanakan kegiatan komunikasi politik dengan sesama partai politik dan dengan warga negara agar terdapat jalinan hubungan yang erat antara partai politik dengan warga negara. Sudah cukup masyarakat dicekoki lewat sandiwara politik dan permainan citra yang semu. Masyarakat SulSel merindukan suasana Pilgub yang tenang dan mendidik. Sebab perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi pun telah mengantarkan mereka pada satu titik kesadaran untuk memilah mana yang asli dan mana yang palsu, mana yang layak dan tidak layak.
            Penulis juga bagian langsung dari salah satu tim bakal calon yang bertarung, tetapi tetap mencoba menyuarakan sedikit harapan ditengah adu jotos media yang cenderung saling mendiskreditkan dan jauh dari kedewasaan. Mengutip Mahfud MD, politik itu gerbong, relnya adalah hukum, percuma bicara politik tanpa memperdulikan aturan. Berpolitiklah sesuai kaidah tanpa harus memaksakan kehendak dan menyudutkan seseorang. Mari duduk bersama dan berdialog, sebab Pilgub ini adalah momentum konsolidasi ide yang didorong bersama. Dan hasilnya pun adalah keinginan bersama yang sesunggunya merepresentase visi segenap masyarakat SulSel untuk hidup yang lebih maju. Semoga Tuhan meridhoi.

                                                                       

http://makassar.tribunnews.com/2012/07/31/jubir-sayang-selle-seperti-kucing-yang-kalap-dapat-makanan

Tribun Timur - Selasa, 31 Juli 2012 16:37 WITA



MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM-- Juru bicara pasangan incumbent calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu'mang (Sayang), Henny Handayani menyayangkan sikap tidak sportif dan lugu yang ditunjukkan jubir pasangan Ilham Arief Sirajuddin-Aziz Qahhar Mudzakkar (IA), Selle KS Dalle.  Mantan Ketua Badko HMI Sulselbar ini mengatakan, Selle, tanpa merasa bersalah sedikitpun dan tanpa  meminta maaf karena telah menuding seenak hati rusaknya baliho IA dikaitkan dengan Tim Sayang."Tidak apa-apa dia begitu (tidak meminta maaf). Makanya, sebagai jubir kalau berkomentar jangan gegabah. Jangan seperti kucing yang sedang kelaparan, tiba-tiba kalap saat dapat makanan," kata Heny, Selasa (31/7)

Menurut Henny, masyarakat butuh pencerahan dan pendidikan politik yang sehat, bukan adu domba kepentingan dengan melempar pernyataan yang tidak cerdas. Pilgub damai tanggungjawab semua elemen, bukan hanya tim sukses kandidat tertentu.

Aparat kepolisian telah memastikan rusaknya dua baliho raksasa milik pasangan IA di Jl Gunung Nona bukan karena unsur politik tetapi imbas dari tawuran antarpemuda di sekitar jalan tersebut.

Penulis : Syaekhuddin
Editor : Imam Wahyudi